Berkunjung Ke Musium

Anggota Lisember Belajar di Musium Sulawesi Tengah

Anggota Lisember

Beberapa dari sekian anggota Lisember

Anggota Lisember

Beberapa Anggota Lisember lainnya

Penari

Beberapa Penari Lisember

Foto bersama

Anggota Lisember foto bersama Tokoh Masyarakat kulurahan Lasoani serta beberapa Sanggar Seni Kota palu

Selamat Datang Di Libu Seni Mebere Blog

Libu Seni Mebere Adalah Salah satu Organisasi pemuda yang bergerak dibidang Pelestarian Budaya dan Tradisi Luhur, Serta mengangkat Nilai - Nilai Luhur To Ri Kaili.

Misi

Melestarikan Budaya, Tradisi, Serta mengangkat Nilai - Nilai Luhur To Ri Kaili.

Jumat, 02 Maret 2012

Lagu dan Lirik Topo Tara (Kaili Etnis Tara)


Kita danosampesuvu dako Ri Lore
Nasompo Ri Lemba
Kita dano salara dako nggaulu
Kana ratora
Jagai jala nggatuvu povia belo pakaroso ada

hee.... Topo tara
hee.... Topo tara
Dako ri lore nasompo ri lemba
Dako ringgauluna kita nosalara
Dako ri lore nasompo ri lemba
Dako ringgauluna kita nosalara
hee.... Topo tara
hee.... Topo tara


Kupopatora..ka kita loko natuvu nte ada
Nemo kita mosisala ala matuvu kana masana
hee.... Topo tara
hee.... Topo tara


Dako ri lore nasompo ri lemba
Dako ringgauluna kita nosalara
Dako ri lore nasompo ri lemba
Dako ringgauluna kita nosalara
hee.... Topo tara
hee.... Topo tara
hee.... Topo tara
hee.... Topo tara


Ciptaan : Lisember

klik Ini untuk mendownload

Kamis, 01 Maret 2012

Puisi : Memutar Kembali Waktu

Memutar kembali waktu...
mengenang yang paling jauh
masa lalu untuk masa kini
masa lalu untuk masa yang akan datang

16 oktober 2008
mengayungkan langkah di jalan setapak
menapaki jejak jejak tak berbekas
besar ini besar harap
dapat menyibak tirai makna
melukiskan kisah menyatakan cerita


jejak budaya belum lagi terlihat
masih sebuah cerita yang terbata bata
masih penggalan kisah gagah gagahan
masih keping keping berserakan tanpa rupa

meski dekat... masih terasa jauh
karna zaman lupakan leluhur
masih tak terlihat... masih sebatas janji
karna hati tak lagi menjadi raja
hanya percaya yang nyata tak percaya yang tak nyata
duniawi tak lagi mengingat mati.

Apa alasan menampik
sementara makna tak terjangkau akal insani
apa alasan memusnakan tradisi
sementara tafsiran pikiran tak sampai pada arti.

Tabe tama bunto
mabunto tana bolangi tara kami mabunto
mata nogea rente lara mpangale
to lino nalingamo ada ni sapuakamo
nitajika bulo nantima bunto
nidunggasaka palaka nipeoko silaka
ni paka koso langga jamo poima

lino nolanto... todea nangojo peoko
pekirisi nakuya kaili bo i vei...
nemo aga bilisi nte posiri nipakaisi
tana ntovea nakuya noridi notumangi
tora ti noto... tora ri pantora
bara aga saba ana makumpu namo nosintunggai... tamo nosiponondo
kedo lara nu manusia bambasilosi koronamboto....

pekik tradisi mengetarkan bumi
tarian leluhur, tarian kehidupan, tarian alam semesta
insan – insan budaya diam dalam getar semangat haru tanpa suara
mata hati mencari terang dala belantara duniawi
zaman mengulas nilai peradaban
orang – orang beradat tak lagi beradat
kebenaran dan kearifan terinjak nafsu serakah dan kekerasan hati
tak lagi beralas kasih dan kedamaian
hanya ambisi untuk puja dan puji

dari nabi adam di turunkan
sejuta makna tersurat dan tersirat
simbol simbol keseimbangan yang damai
hingga nabi muhammad penyempuran cahaya ilahi
biaskan warna – warni pelangi penuh arti
harmoni pencipta dan dicipta

EEE... todea ri lino...
naratamo dako rivavo mpoiri
nanjili ritana ntovea
naratamo palindo nulara
mopesindo lino ala kana molino

lama tak bersua
rindu bagai dendam berdarah
walau hanya rasa dalam semangat hati
tampi ri langi majadi sabi
duh tuan pengemban amanah bumi
lihatlah selalu langkah kami
langkah yang tertatih kadang perih...
meski belum mengerti arti diri yang sejati
tapi kami tak ingin dibutakan hati
kami hanya insan yang coba memahami langkah pendiri negeri
dan..., memang...!
kami bukan siapa – siapa
bukan turunan para raja
bukan bangsawan yang berpangkat dan bersinggasana megah
kami hanya anak negeri yang ingin berbakti pada pertiwi

seiring doa pada ilahi... luluh hati kami...
disemilir hembusan angin
pada pijar sinar mentari pagi
pada bumi tempat kami berpijak
pada air sungai gemerincing bernyanyi
semoga jadi sahabat bumi yang sejati
benteng – benteng kokoh tanah kaili
pengemban amanah kesatria langit
tampilangi dimasa kini


Ciptaan : Dedi K Rabel

Rabu, 29 Februari 2012

WARISAN BUDAYA SULAWESI TENGAH

Keragaman peninggalan warisan budaya masa lalu di Sulawesi Tengah, khususnya peninggalan megalitik yang mempunyai ciri khas merupakan pengetahuan kebudayaan atas cipta, karya dan rasa masyarakat ada masa lampau yang menmpunyai nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan suatu pedoman atas landasan untuk menetukan arah kebijakan dan strategi dalam pengambilan dan penentuan langkah diberbagai aspek kehidupan bangsa.
 
Penelitian peninggalan arkeoloi di Sulawesi Tengah telah dilakukan oleh para peneliti bangsa Eropa sejak akhir abad 19, yang dimulai oleh Adriani dan A.C Kruyt dalam tulisannya “Van Poso naar arigi een Lindoe”  pada tahun 1898. Kemudian pada tahun 1938 Kruyt menerbitakan tulisannya “De West Toradjas in Midden Celebes”, dan dalam tulisan tersebut Kruyt menyebutkan beberapa tinggalan arkeologis di Kulawi seperti kalamba di Gimpu, batu dulang di Mapahi, dan peti kubur kayu di Lindu. Walter Kaudern, seorang peneliti kebangsaan Swedia pada tahun 1938 menerbitkan tulisannya “Megalithic Finds in Central Celebes”  dan sebuah tulisan tentang etnografi “Stucture and Settlements in Central Celebes”.

Penelitian potensi arkeologi oleh peneliti Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 1976 oleh Tim Proyek Penelitian dan Peninggalan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tim dipimpin oleh seorang arkeolog Haris Sukendar dan dalam penelitiannya sempat melakukan ekskavasi awal pada situs Suso di Padang Tumpara Lembah Bada Kabupaten Poso.

A.  ARKEOLOGI PRASEJARAH
Zaman Prasejarah adalah suatu periode kebudayaan manusia  yang masih terbatas dan sederhana. Pada masa ini pendukungnya belum mengenal tulisan dengan pola hidup sederhana, berpindah-pindah, berburu dan meramu. Perkembangan selanjutnya manusia mulai menetap, bercocok tanam sampai tingkat mengenal penggunaan logam.

Zaman paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum dan perundagian merupakan periodesasi zaman prasejarah yang dikenal Indonesia.

Peninggalan zaman prasejarah di Sulawesi Tengah pada masa Poleolitikum dan masa Mesolitikum hingga saat ini belum ditemukan. Tetapi peninggalan tertua berasal dari masa Neolitikum berupa penemuan kapak batu di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso pada tahun 1976. Sedangkan peninggalan masa Megalitikum dan masa perundagian berupa temuan-temuan menhir, arca menhir, kalamba, tempayan kubur dan benda-benda yang terbuat dari logam seperti kapak perunggu yang tinggalannya tersebar di Sulawesi Tengah.

1)  Tingalan Masa Mesolitikum, seperti Fosil Gajah Purba/Stegodon di Wilayah Napu Kecamatan Lore, Kabupaten Poso
2)   Tinggalan masa neolitikum, Seperti Tradisi Pembuatan Kain Kulit Kayu (Peralatan dan Berbagai Bentuk Kain Kulit Kayu dan Tradisi Pembuatan Gerabah).
      Proses Pembuatan Kain Kulit Kayu









































































































































































































3)      Tinggalan Masa Megalitikum, seperti Patung/Arca Aatu, Kalamba, Gerabah Kubur dan Gelang Batu.


Penggalian (ekskavasi) Tempayan Kubur di Situs Watu Nongko Tahun 1998. Oleh Pusat ARKENAS diklaim sebagai Tempayan Kubur Terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. 
4).   Tinggalan Masa Perundagian, seperti tau-tau, Taiganja dan Sagala.



 B.   ARKEOLOGI KLASIK

Berbagai Tinggalan Keramik Asing :
1)      Keramik Cina dari berbagai Macam Dinasti, sep-erti Dinasti Tang, Yuan, Sung, Ming dan Yuan.
2)      Keramik Jepang, Muangthai dan Vietnam.

C.   ARLKEOLOGI ISLAM
Islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan, dibuktikan dengan berdirinya organisasi-organisasi Islam seperti: pada tahun 1917 Syariat Islam masuk ke Sulawesi Tengah (12 tahun setelah belanda menjajah di Sulawesi Tengah).

Untuk Kabupaten Donggala dan Kota Palu dibawahi sendiri oleh pendirinya yaitu HOS Tjokro Aminoto, sedangkan untuk wilayah oli-toli dibawah oleh sorang sahabatnya yaitu Sastro Kardono. Organisasi yang didirika di Palu, yang kemudian menjadi suatu organisasi yang besar dan sangt berjasa dalam pengmbangan agama Islam di Sulawesi Tengah adalah organisasi “Al-chaerat”, serta dibuktikan dengan peninggalan arkeologi Islam di Sulawesi Tengah seperti bangunan Masjid Tua di Bungku, Masjid Tua Una-una, Masjid Tua di Palu.

Masjid Tua Una-una
Selain itu, terdapat pula peninggalan Makam Penyiar Agama Islam dan Raja-raja, Naskah-naskah kuno dan Kaligrafi.

D.  ARKEOLOGI KOLONIAL
         
  Peninggalan benteng pertahanan atau Bunker Veilbox di pesisir pantai Toli-toli.

 DR. Adrini tiba di kota Poso pada bulan Desember 1895, Ia melakukan pembuatan peta geografi dan topografi atas seluruh wilayah yang didatanginya. Akhirnya Ia meninggal pada Tahun 1926 di kota itu dan dimakamkan di tempat pemakaman umum yang sekarang menjadi situs.


 Peninggalan lainnya pada masa ini adalah bangunan Gereja Tua (Gereja Katolik) di Jl. Patimura dan gedung PKKD (Pusat Koperasi Kopra Donggala) di Tanjung Batu.







Sumber: Museum Daerah Sulawesi Tengah

Senin, 27 Februari 2012

Usung Tema Perdamaian, Libatkan Puluhan Sanggar Seni Di Ulang Tahun Yang Ke-3

Alunan Musik Tradisional yang dipadu dengan musik modern menjadi bagian dari Perayaan Ulang Tahun Ketiga Lisember, Yang berbasis dilingkungan II kelurahan Lasoani, Jum'at - Sabtu (24-25/12). Mengusung tema bertajuk "Malindo, mosangu Lara Mombangu Ngapa" (Satu Hati Dalam Damai Membangun Negeri), kegiatan yang dilaksanakan di panggung terbuka di lokasi Mata air Mebere, Kelurahan Lasoani ini terasa begitu istimewa. Ditonton ribuan orang, menampilkan lebih dari 20 sanggar seni dari Kota Palu, Donggala dan Kabupaten Baru Sigi.

Selain Sanggar Seni Lisember, Turut berpartisipasi di antaranya Sanggar Seni Pedati, Sanggar Seni Topo Da'a dari desa Porame/Balane, Sanggar Seni Baligau, dari tatanga, Magau Ganda dari Kelurahan Nunu, Sanggar Seni Linosidiru dari kelurahan Tavanjuka, Sanggar Seni Anantovea dari Kelurahan Balaroa, Kaili Bangkit Tatura, Povenaiya Birobuli Selatan, Roa Sangu Rasa dari Lasoani dan sejumlah sangar seni lainnya.

Sudah menjadi ciri khas Lisember, Penataan panggung dan lokasi kegiatan kental dengan nuasa tempo dulu. Panggung yang terbuat dari papan dan bambu yang di tempatkan di air, dibawah pohon beringin. Dihiasi dengan berbagai jenis tanaman. Di Sekitar lokasi terdapat puluhan lampu minyak, Obor. Penonton dan tamu undangan di sediakan tempat lesehan di depan dan samping Panggung.

Tampilan Panggung
Suasana Sekitar Panggung
Sebenarnya tujuan utama kegiatan adalah "menyampaikan" kembali kepada publik bahwa tradisi Kaili itu sangat beragam, bernilai seni tinggi. Selain itu, momen pementasan seni ini menjadi media untuk mempererat perdamaian yang terancam luntur akhir-akhir ini. Pesan-pesan perdamaian terlihat jelas dari berbagai macam seni yang ditampilkan. Mulai puisi, tari dan lagu yang diiringi musik kolabrasi, alat musik tradisional dan modern. Seperti tarian Posindo, Tarian baru yang diciptakan lisember. Gerak Tarian Pesindo yang di kolaborasi dengan puisi mengambarkan adanya harapan baru perdamaian dengan hadirnya cahaya obor yang dibawa 6 orang penari perempuan.

Sanggar Seni Topo Da'a menampilkan seni Ndolu, yakni sejenis tembang berupa doa-doa ketika memulai sebuah ritual adat. Dibawakan 5 orang, yang terdiri dari 2 penabuh gendang, satu seruling, satu seruling dan 2 orang membawakan tembang Ndou. pesan yang disampaikan dalam tembang Ndou lebih banyak soal kehidupan masa lalu yang penuh dengan kedamaian dan bersahaja, jauh dari pertikaian dan konflik. saling menghargai dan menghormati kalangan yang lebih tua, serta taat kepada Sang Pencipta.

Yang tidak kalah menarik lagu berjudul "Antara Desa" yang dibawakan sanggar seni Povenaiya yang berbasis di kelurahan Birobuli Selatan. Sair lagu dari awal sampai akhir menyebutkan Satu Persatu Nama Desa dari pegunungan sebelah barat (sekarang wilayah Kabupaten Sigi) hingga pegunungan sebelah timur Kota Palu. Beberapa Desa yang di sebut dalam lagu "Antara Desa" tersebut kini sudah berubah menjadi Kelurahan di Kota Palu. Yakni Seperti Birobuli, Tanamodindi, Lasoani dan Kawatuna.

Bila dikemas dengan baik dan apik, keberagaman Itu ternyata bisa menciptakan kedamaian, Hal ini tergambar dari pakaian yang di gunakan para penari, berwarna warni seperti wana pelangi, indah dipandang. Dan hati menjadi damai.

"Melalui pementasan ini kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa seni budaya menjadi salah satu media untuk mempererat tadi perdamaian," Ujan Hamdan ketua panitia kegiatan.

Soal anggaran kegiatan yang mencapai jutaan rupiah, kata Hamdan, murni swadaya dari anggota Lisember dan sumbangan dari beberapa pihak yang peduli dengan kegiatan-kegiatan seni. Sumbangan berupa uang tunai dan barang.

Kegiatan perayaan hari ulang tahun ke-3 Lisember dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus baru. setelah dilakukan pemilihan secara demokratis, Abdul Razak terpilih untuk memimpin Lisember 3 tahun kedepan mengantikan Dedy K Rabel. Tampak hadir pada acara ini sejumlah pemerhati seni di antaranya Drs. Iksan, M.Hum, TS adjat, Samsul Syaifudin, Baharudin Parisele, Sophian R Aswin, Kasim B Latadundu dan yang lainnya.



Selasa, 14 Juni 2011

Pejuang Budaya

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa seni adalah salah satu unsur dari budaya. Seni telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas kehidupan manusia dalam wujud dan rupa yang beraneka ragam. Seni yang muncul dari rakyat sebagai kesenian rakyat merupakan perwujudan pengalaman hidup baik secara spiritual maupun sosial sehingga karya-karyanya pun mengekspresikan ide, nilai, dan cara pandang yang harus dipahami sebagai dasar memahami mereka dalam tataran sosial yang lain.
Sulawesi Tengah jika kita menyelam kedasar, disinilah ragam Budaya yang paling banyak dibanding daerah lain, dari segi bahasa kita memiliki ragam bahasa yang cukup banyak, dengan dialek yang berbeda, dan ciri atau khasnya pun berbeda. Dibanding dengan daerah lain  di Sulawesi  Tengah masih banyak tempat yang belum tergali potensi seni dan budayanya. sehingga banyak yang belum mengetahi  bahwa begitu banyak ragam kekayaan seni dan budayua yang kita miliki. Padahal Kebudayaan di Sulawesi Tengah memiliki banyak kemiripan dari segi nilai dan fungsinya, untuk sistim sosialnya, nilai budaya ini dapat diandalkan menjadi kekuatan membangun bangsa.

Kota Palu yang secara geogarafis memiliki pembagian wilayah yang kesemuannya terdapat budaya dan seni yang sangat karasteristik dengan wilayahnya. Wilayah ketinggian atau pegunungan tedapat budaya yang khas dengan alamnya, demikian pula dengan wilayah lembah seni dan budaya yang tumbuh berbeda dengan apa yang ada dipegunungan dan diwilayah pesisir terdapat budaya yang berbeda pula , namun dalam nilai kultur sosianya tetap sama.
Hanya saja, Sedikit disayangkan adalah perhatian dan kebanggan pada ragam kebudayaan tersebut berangsur tergilas oleh perkembangan zaman. Kurangnya Media ataupun ikon-ikon yang menujukan identitas budaya daerah ini adalah salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat tak lagi mengetahui ciri atau identitas serta ragam potensi budaya yang kita miliki. Ironisnya justru ciri dan pengaruh budaya dari daerah maupun bangsa lain menjadi primadona tren pergaulan. seperti dialek bahasa khususnya dikalangan generasi muda dan masyarakat luas pada umumnya, dan kemudian bermunculan berbagai jenis patung, tugu, gapura dan sebagainya. Dijadikan ikon-ikon hiasan dijalan-jalan protokol dan instansi pemerintahan serta pusat pelayanan masyarakat lainnya.
                    Seharusnya kita bangga dengan budaya kita sendiri baik dari ragam pesonanya maupun dari nilai yang terkandung didalamya. Mari kita melihat potensi daerah itu dari masyarakat yang masih memeggang teguh budayanya, salah satunya adalah Kelurahan Lasoani. Kelurahan Lasoani adalah kelurahan yang berada pada dua geografis yaitu sebagian wilayahnya berada di lembah dan sebagian lagi di daeah pegunungan. Dilihat dari keadaan ini tentunya ada dua potensi besar yang menguatkan Lasoani menjadi salah satu kelurahan yang mempertahankan nilai budaya. Belum  lagi dengan keberadaan masyarakatnya yang sangat arif menjaga tradisi. Masyarakat Lasoani Mayoritas suku kaili berdialeg Tara(salah satu rumpun bahasa suku kaili).

Dalam periode 1 tahun ini (2009-2010) bermunculan berbagai elemen seni budaya (Sanggar Seni) di kota Palu dan sekitarnya, Sanggar seni yang didirikan atas cita-cita yang sama, yakni mengangkat kembali nilai-nilai budaya, nilai-nilai tradisi Tanah kaili yang merupakan salah satu ragam kekayaan budaya nusantara yang selama ini terpuruk dan makin tergeser oleh perkembangan zaman. Gaung budaya yang di suarakan lewat berbagai karya seni yang berakar pada  kesenian dan budayaa tradisional daerah, telah mampu membuka ruang komunikasi antar elemen pemuda, pelajar, mahasiswa serta pelaku musik tradisi dan masyarakat pada umumnya. Kelompok-kelompok inipun telah mampu memberikan warna baru dalam membendung pergaulan generasi yang mulai bergeser pada pergaulan modrn yang serba bebas. Meredam kesenjangan sosial yang memicu sengketa. Serta menjadi filter dalam kehidupan msyarakat atas pesatnya arus informasi perkembangan peradaban manusia saat ini.  
Adalah hal yang sangat patut untuk di kembangkan dan dipertahankan bagaimana generasi mencoba menyalurkan kreasinya pada koridor yang benar. Menggali nilai-nilai luhur manusia yang telah menjadi sejarah sebagai tolak ukur dalam bertingkah laku dan bepikir positif dalam berkarya sehingga memunculkan berbagai ide kreatif dalam membangun bangsa tanpa melakukan protes-protes tanpa solusi seperti yang marak terjadi saat ini. Potensi kaum muda yang patutlah mendapat perhatian sebagai ikon pembelajaran bagi kader-kader bangsa untuk menggembleng diri sebagai anak bangsa yang menggenggam erat jati dirinya dengan penuh rasa bangga sehingga Nasionalisme sebagai bangsa yang berdaulat akan teguh dalam hati generasi muda indonesia.

Senin, 23 November 2009

Tampilkan Berbagai Kreasi Baru, Komitmen untuk Kembangkan Budaya Kaili Di Ulang tahun pertama Lisember

Libu Seni Mebere (Lisember) Sabtu (21/11), merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang pertama, bertempat di Sumber Mata Air Mebere, jalan Tekukur, Kelurahan Lasoani. Acara yang dikemas dengan nuansa tempo doeloe ini, dihadiri ratusan orang, mulai dari pemerhati dan pelaku seni, pejabat, politisi, tokoh adat dan warga di sekitarnya.

Tampak hadir di acara perayaan HUT pertama Lisember di jalan Tekukur tepatnya di sumber Mata Air Mebere Sabtu lalu, di antaranya Kadis Pariwisata Drs Sudaryano R Lamangkona MSi, Kadis Disdik Ardiansyah Lamasitudju SPd, Sekretaris Dewan Drs Moh Hidayat Lamakarate MSi, Camat Palu Selatan Arman Djanggola, pemerhati seni Hidayat Lembang dan Ashar Yotomaruangi, anggota DPRD Kota Palu Sophian R Aswin dan Idiljan Djanggola.

Pada kegiatan yang mengusung tema “Budayakan Hati Cintailah Negeri” Lisember menampilkan sejumlah karya seni kreasi baru seperti tarian Poave dan Notuda Jole (menanam jagung), dan lagu Tesa Posampesuvu (cerita persaudaraan). Sanggar seni yang tampil di antaranya Sanggar Seni Pedati, tampil dengan 3 karyanya Momotoro-ana, Mari belajar bahasa Kaili, dan Petani. Bengkel Seni Tamalanja yang tampil bersama Sensasi dari Kelurahan Tatura, membawakan lagu Ana-ntovea dan lagu mosampesuvu yang dipadukan dengan puisi oleh Ashar Yotomaruangi, Kreator Muda Mandiri dari Kelurahan Kayumalue dengan Kakulanya, kelompok An-namira dari Kelurahan Tanamodindi, dengan membawakan karya lagu Vunja dan pukulan rebana yang merupakan musik spesialisasi An-namirah.

Karya yang berisikan kritik sosial juga ditampilkan dalam pagelaran ini. Salah satunya seperti yang disajikan Sanggar Seni Linosidiru dari Kelurahan Tavanjuka. Linosidiru melalui lagunya yang berjudul ‘Hemat Energi’ mengkritik tentang krisis listrik yang terjadi di Kota Palu.

Ketua panitia kegiatan Mantra L Lapaido mengatakan, selain dalam peringatan hari jadi Lisember yang pertama pagelaran seni ini juga bertujuan merajut hubungan kekeluargaan, sekaligus menanamkan nilai tradisi gotong royong kepada generasi muda. Lebih khusus lagi, pagelaran seni juga dalam rangka mengangkat kembali kebudayan dan adat istiadat masyarakat Kaili.

“Kegiatan ini juga sekaligus sebagai media instropeksi diri. Lisember tidak dan jangan pernah puas. Yang dilakukan selama ini belumlah apa-apa dan belum seberapa. Setahun telah terlewati, namun perjalanan masih panjang,” ujarnya dalam sambutan. Menurutnya, budaya adalah cerminan jati diri, seni penyatuan hidup dan kehidupan. Karena itu budaya harus ada di hati, agar hati dapat berbudaya sehingga cinta hadir untuk diri, sanak saudara, masyarakat dan bangsa. “Bersaudara tanpa batas dan berkepribadian tanpa cela adalah ciri pribadi yang berbudaya,” ujar Mantra berfilosofi.

Ketua Lisember Dedi K Rabel mengatakan, setahun perjalanan bergelut di seni budaya menjadi pelajaran berharga bagi pribadi dan seluruh anggota Lisember. Ke depan masih banyak tantangan yang akan makin mendewasakan dan menjadi bekal Lisember untuk tetap berbuat. “Kami ada bukan untuk bersaing, tapi untuk bersanding. Kembali ke Jati Diri untuk membangun Budaya. Itulah satu semangat kebersamaan di komunitas seni budaya yang membesarkan kami,” ujar Dedi. 

Ia menceritakan, selama setahun perjalanan Lisember berbagai even dan kegiatan telah dilaksanakan Lisember. Mulai dari eksplorasi budaya, silaturahim ke beberapa komunitas seni budaya kota Palu, berpartisipasi dalam beberapa iven budaya seperti festifal danau poso dan yang lainnya. “Saudara tidaklah harus sedarah, kawan tidaklah harus sejalan tapi tujuan baik adalah muara yang menyatukan. Itulah prinsip yang coba kami tanamkan dalam hati, sehingga insya Allah kami akan tetap ada dan berbuat untuk pelestarian budaya Kaili,” kuncinya.

“Kami sangat merespons kegiatan-kegiatan seni seperti ini. Ke depan kami akan memediasi pelaku seni ini agar bisa bisa berkembang lebih baik lagi,” ujar Kadis Pariwisata Sudaryano Lamangkona dalam sambutannya.