Berkunjung Ke Musium

Anggota Lisember Belajar di Musium Sulawesi Tengah

Anggota Lisember

Beberapa dari sekian anggota Lisember

Anggota Lisember

Beberapa Anggota Lisember lainnya

Penari

Beberapa Penari Lisember

Foto bersama

Anggota Lisember foto bersama Tokoh Masyarakat kulurahan Lasoani serta beberapa Sanggar Seni Kota palu

Selamat Datang Di Libu Seni Mebere Blog

Libu Seni Mebere Adalah Salah satu Organisasi pemuda yang bergerak dibidang Pelestarian Budaya dan Tradisi Luhur, Serta mengangkat Nilai - Nilai Luhur To Ri Kaili.

Misi

Melestarikan Budaya, Tradisi, Serta mengangkat Nilai - Nilai Luhur To Ri Kaili.
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

Tarian Pesindo



Karya Lisember 2011
Tarian yang berbasis pada Tradisi Kaili dengan musik pengiring Lalove (suling Adat Khas Kaili) Ganda-ganda (Gendang) dan Kudode. bercerita tentang sebuah harapan pada sang pencipta akan datangnya cahaya kedamaian , harapan untuk selalu mendapat perlindungan dan petunjuk jalan dalam kehidupan dunia. sehingga warna warni kehidupan menyatu dalam ikatan persaudaraan yang indah seindah warna Pelangi.

Jumat, 16 Maret 2012

"Benteng Budaya" di Uwe Mebere

Sumber mata air oleh masyarakat Lasoani disebut sebagai Uwe Mebere, berada di sebelah timur jantung Kota Palu ini merupakan keunikan alam dan budaya yang mulai langka. Mata air jernih yang keluar dari akar-akar pepohonan besar yang terawat menjadi  nafas kehidupan bagi masyarakat di kaki gunung Masomba, selain memanfaatkan sumber air ini untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Uwe Mebere menjadi ruang perekat interaksi sosial ko-munitas setempat sejak dahulu. Bahkan oleh para pemuda di sana menjadi, “Benteng Budaya Lokal” dalam menghadapi serbuan budaya asing.
Suasana malam itu Sabtu, (21/11) di Uwe Mabere agak berbeda dari  malam-malam sebelumnya,  jejeran obor dari bambu berbahan bakar minyak tanah menghiasi  jalan masuk ke lokasi itu. Beberapa lampu sorot yang digantung di pepohonan mem-buat suasana malam menjadi terang benderang. Sementara di tepi aliran air terlihat beberapa tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah duduk di panggung sederhana, di bagian lain tampak orang-orang dengan rapi dan antusias duduk di atas tikar yang digelar melingkari sumber mata air itu. Di bagian sebelah timur yang agak tinggi terlihat panggung utama yang didekorasi sederhana dan sangat alami mengikuti suasana setempat.

Adalah kelompok pemuda yang tergabung dalam Libu Seni Mebere (Lisember), sebuah wadah yang terbangun dari kepedulian dan keinginan kuat untuk menjaga seni budaya lokal warisan leluhur. Wadah ini berinisiatif menjadikan Uwe Mabere sebagai ruang interaksi dan komunikasi untuk  penggalian dan pengembangan budaya lokal, dan malam itu menjadi, “Konser Budaya Kaili”, yang di gelar dalam rangka peringatan satu tahun komunitas seni ini.

Mantra,  Kordinator Kegiatan yang bertemakan, “Budayakan Hati Cintai Negeri”, ini menyatakan bila pementasan seni budaya sebagai wujud kepedulian pemuda dalam menjaga seni budaya leluhur. Selain itu dimaksudkan untuk memperkuat tali persaudaraan masyarakat Kaili. Tekad ini benar-benar tercapai melihat peserta maupun penonton yang memadati lokasi ini berasal dari berbagai wilayah di Kota Palu.

“Kegiatan ini selain untuk  tetap melestarikan seni budaya yang telah diwariskan leluhur juga untuk menja-ga semangat persaudaraan masyarakat di kota Palu,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palu,Sudaryano Lamangkona yang  hadir pada malam itu turut memberikan apresiasi kepada komunitas seni Lisember. “Saya memberikan apresiasi kepada panitia kegiatan  ini. Event ini benar-benar menunjukan kekayaan budaya orang kaili, kita patut berbangga dengan hal ini, kedepan saya berharap kegiatan ini bisa menjadi major event untuk seni budaya di Palu,” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Dalam pementasan yang dilangsungkan selama dua hari itu, sejumlah komunitas seni budaya tradisi di Kota Palu mementaskan berbagai pertunjukan yang menarik, seperti tarian yang terinspirasi dari ritual balia, musik etnik, lagu daerah  serta puisi. Kemeriahan pagelaran pada malam itu adalah bukti kesuksesan panitia,  tepuk tangan dan sambutan hangat penonton tidak henti-hentinya menyeruak hingga akhir acara.

Pementasan yang digelar secara swadaya oleh para pemuda yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat Lasoani ini  adalah salah satu bukti kesungguhan untuk melestarikan dan mempromosikan budaya Kaili sekaligus merajut tali persaudaraan menjadi lebih erat.

Keindahan dan keluhuran  budaya Kaili didengungkan dari sebuah “Benteng Budaya”, To Tara yang menggaung hingga merasuk ke wilayah-wilayah lembah Palu. Sebuah tekad dan apresiasi untuk memelihara kearifan budaya masyarakat Kaili. edy 

Sumber : Majalah ESILO

Senin, 27 Februari 2012

Usung Tema Perdamaian, Libatkan Puluhan Sanggar Seni Di Ulang Tahun Yang Ke-3

Alunan Musik Tradisional yang dipadu dengan musik modern menjadi bagian dari Perayaan Ulang Tahun Ketiga Lisember, Yang berbasis dilingkungan II kelurahan Lasoani, Jum'at - Sabtu (24-25/12). Mengusung tema bertajuk "Malindo, mosangu Lara Mombangu Ngapa" (Satu Hati Dalam Damai Membangun Negeri), kegiatan yang dilaksanakan di panggung terbuka di lokasi Mata air Mebere, Kelurahan Lasoani ini terasa begitu istimewa. Ditonton ribuan orang, menampilkan lebih dari 20 sanggar seni dari Kota Palu, Donggala dan Kabupaten Baru Sigi.

Selain Sanggar Seni Lisember, Turut berpartisipasi di antaranya Sanggar Seni Pedati, Sanggar Seni Topo Da'a dari desa Porame/Balane, Sanggar Seni Baligau, dari tatanga, Magau Ganda dari Kelurahan Nunu, Sanggar Seni Linosidiru dari kelurahan Tavanjuka, Sanggar Seni Anantovea dari Kelurahan Balaroa, Kaili Bangkit Tatura, Povenaiya Birobuli Selatan, Roa Sangu Rasa dari Lasoani dan sejumlah sangar seni lainnya.

Sudah menjadi ciri khas Lisember, Penataan panggung dan lokasi kegiatan kental dengan nuasa tempo dulu. Panggung yang terbuat dari papan dan bambu yang di tempatkan di air, dibawah pohon beringin. Dihiasi dengan berbagai jenis tanaman. Di Sekitar lokasi terdapat puluhan lampu minyak, Obor. Penonton dan tamu undangan di sediakan tempat lesehan di depan dan samping Panggung.

Tampilan Panggung
Suasana Sekitar Panggung
Sebenarnya tujuan utama kegiatan adalah "menyampaikan" kembali kepada publik bahwa tradisi Kaili itu sangat beragam, bernilai seni tinggi. Selain itu, momen pementasan seni ini menjadi media untuk mempererat perdamaian yang terancam luntur akhir-akhir ini. Pesan-pesan perdamaian terlihat jelas dari berbagai macam seni yang ditampilkan. Mulai puisi, tari dan lagu yang diiringi musik kolabrasi, alat musik tradisional dan modern. Seperti tarian Posindo, Tarian baru yang diciptakan lisember. Gerak Tarian Pesindo yang di kolaborasi dengan puisi mengambarkan adanya harapan baru perdamaian dengan hadirnya cahaya obor yang dibawa 6 orang penari perempuan.

Sanggar Seni Topo Da'a menampilkan seni Ndolu, yakni sejenis tembang berupa doa-doa ketika memulai sebuah ritual adat. Dibawakan 5 orang, yang terdiri dari 2 penabuh gendang, satu seruling, satu seruling dan 2 orang membawakan tembang Ndou. pesan yang disampaikan dalam tembang Ndou lebih banyak soal kehidupan masa lalu yang penuh dengan kedamaian dan bersahaja, jauh dari pertikaian dan konflik. saling menghargai dan menghormati kalangan yang lebih tua, serta taat kepada Sang Pencipta.

Yang tidak kalah menarik lagu berjudul "Antara Desa" yang dibawakan sanggar seni Povenaiya yang berbasis di kelurahan Birobuli Selatan. Sair lagu dari awal sampai akhir menyebutkan Satu Persatu Nama Desa dari pegunungan sebelah barat (sekarang wilayah Kabupaten Sigi) hingga pegunungan sebelah timur Kota Palu. Beberapa Desa yang di sebut dalam lagu "Antara Desa" tersebut kini sudah berubah menjadi Kelurahan di Kota Palu. Yakni Seperti Birobuli, Tanamodindi, Lasoani dan Kawatuna.

Bila dikemas dengan baik dan apik, keberagaman Itu ternyata bisa menciptakan kedamaian, Hal ini tergambar dari pakaian yang di gunakan para penari, berwarna warni seperti wana pelangi, indah dipandang. Dan hati menjadi damai.

"Melalui pementasan ini kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa seni budaya menjadi salah satu media untuk mempererat tadi perdamaian," Ujan Hamdan ketua panitia kegiatan.

Soal anggaran kegiatan yang mencapai jutaan rupiah, kata Hamdan, murni swadaya dari anggota Lisember dan sumbangan dari beberapa pihak yang peduli dengan kegiatan-kegiatan seni. Sumbangan berupa uang tunai dan barang.

Kegiatan perayaan hari ulang tahun ke-3 Lisember dirangkaikan dengan pengukuhan pengurus baru. setelah dilakukan pemilihan secara demokratis, Abdul Razak terpilih untuk memimpin Lisember 3 tahun kedepan mengantikan Dedy K Rabel. Tampak hadir pada acara ini sejumlah pemerhati seni di antaranya Drs. Iksan, M.Hum, TS adjat, Samsul Syaifudin, Baharudin Parisele, Sophian R Aswin, Kasim B Latadundu dan yang lainnya.



Senin, 23 November 2009

Tampilkan Berbagai Kreasi Baru, Komitmen untuk Kembangkan Budaya Kaili Di Ulang tahun pertama Lisember

Libu Seni Mebere (Lisember) Sabtu (21/11), merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang pertama, bertempat di Sumber Mata Air Mebere, jalan Tekukur, Kelurahan Lasoani. Acara yang dikemas dengan nuansa tempo doeloe ini, dihadiri ratusan orang, mulai dari pemerhati dan pelaku seni, pejabat, politisi, tokoh adat dan warga di sekitarnya.

Tampak hadir di acara perayaan HUT pertama Lisember di jalan Tekukur tepatnya di sumber Mata Air Mebere Sabtu lalu, di antaranya Kadis Pariwisata Drs Sudaryano R Lamangkona MSi, Kadis Disdik Ardiansyah Lamasitudju SPd, Sekretaris Dewan Drs Moh Hidayat Lamakarate MSi, Camat Palu Selatan Arman Djanggola, pemerhati seni Hidayat Lembang dan Ashar Yotomaruangi, anggota DPRD Kota Palu Sophian R Aswin dan Idiljan Djanggola.

Pada kegiatan yang mengusung tema “Budayakan Hati Cintailah Negeri” Lisember menampilkan sejumlah karya seni kreasi baru seperti tarian Poave dan Notuda Jole (menanam jagung), dan lagu Tesa Posampesuvu (cerita persaudaraan). Sanggar seni yang tampil di antaranya Sanggar Seni Pedati, tampil dengan 3 karyanya Momotoro-ana, Mari belajar bahasa Kaili, dan Petani. Bengkel Seni Tamalanja yang tampil bersama Sensasi dari Kelurahan Tatura, membawakan lagu Ana-ntovea dan lagu mosampesuvu yang dipadukan dengan puisi oleh Ashar Yotomaruangi, Kreator Muda Mandiri dari Kelurahan Kayumalue dengan Kakulanya, kelompok An-namira dari Kelurahan Tanamodindi, dengan membawakan karya lagu Vunja dan pukulan rebana yang merupakan musik spesialisasi An-namirah.

Karya yang berisikan kritik sosial juga ditampilkan dalam pagelaran ini. Salah satunya seperti yang disajikan Sanggar Seni Linosidiru dari Kelurahan Tavanjuka. Linosidiru melalui lagunya yang berjudul ‘Hemat Energi’ mengkritik tentang krisis listrik yang terjadi di Kota Palu.

Ketua panitia kegiatan Mantra L Lapaido mengatakan, selain dalam peringatan hari jadi Lisember yang pertama pagelaran seni ini juga bertujuan merajut hubungan kekeluargaan, sekaligus menanamkan nilai tradisi gotong royong kepada generasi muda. Lebih khusus lagi, pagelaran seni juga dalam rangka mengangkat kembali kebudayan dan adat istiadat masyarakat Kaili.

“Kegiatan ini juga sekaligus sebagai media instropeksi diri. Lisember tidak dan jangan pernah puas. Yang dilakukan selama ini belumlah apa-apa dan belum seberapa. Setahun telah terlewati, namun perjalanan masih panjang,” ujarnya dalam sambutan. Menurutnya, budaya adalah cerminan jati diri, seni penyatuan hidup dan kehidupan. Karena itu budaya harus ada di hati, agar hati dapat berbudaya sehingga cinta hadir untuk diri, sanak saudara, masyarakat dan bangsa. “Bersaudara tanpa batas dan berkepribadian tanpa cela adalah ciri pribadi yang berbudaya,” ujar Mantra berfilosofi.

Ketua Lisember Dedi K Rabel mengatakan, setahun perjalanan bergelut di seni budaya menjadi pelajaran berharga bagi pribadi dan seluruh anggota Lisember. Ke depan masih banyak tantangan yang akan makin mendewasakan dan menjadi bekal Lisember untuk tetap berbuat. “Kami ada bukan untuk bersaing, tapi untuk bersanding. Kembali ke Jati Diri untuk membangun Budaya. Itulah satu semangat kebersamaan di komunitas seni budaya yang membesarkan kami,” ujar Dedi. 

Ia menceritakan, selama setahun perjalanan Lisember berbagai even dan kegiatan telah dilaksanakan Lisember. Mulai dari eksplorasi budaya, silaturahim ke beberapa komunitas seni budaya kota Palu, berpartisipasi dalam beberapa iven budaya seperti festifal danau poso dan yang lainnya. “Saudara tidaklah harus sedarah, kawan tidaklah harus sejalan tapi tujuan baik adalah muara yang menyatukan. Itulah prinsip yang coba kami tanamkan dalam hati, sehingga insya Allah kami akan tetap ada dan berbuat untuk pelestarian budaya Kaili,” kuncinya.

“Kami sangat merespons kegiatan-kegiatan seni seperti ini. Ke depan kami akan memediasi pelaku seni ini agar bisa bisa berkembang lebih baik lagi,” ujar Kadis Pariwisata Sudaryano Lamangkona dalam sambutannya.